Daerah  

Tak Hanya Disiplin Baris-Berbaris, Menwa Maharuyung Digembleng Jadi Penjaga Kampus

IMG 20261021 WA0093
banner 120x600

PADANG, — Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menimba ilmu di ruang kuliah. Lebih dari itu, generasi muda juga dituntut memiliki kedisiplinan, ketangguhan mental, serta kepedulian terhadap keamanan dan ketertiban lingkungan. Semangat inilah yang ditanamkan kepada 48 siswa Resimen Mahasiswa (Menwa) Maharuyung Sumatera Barat melalui latihan menembak di lingkungan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) 2 Padang.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pendidikan Dasar Kemiliteran (Diksarmil) untuk membentuk karakter mahasiswa yang disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab. Sebanyak 48 peserta yang terdiri dari 28 laki-laki dan 20 perempuan mengikuti latihan dengan penuh antusias setelah melalui proses seleksi.

Bukan sekadar mengasah kemampuan teknis, latihan ini juga menjadi sarana menanamkan kesadaran bahwa setiap keterampilan harus diiringi kedisiplinan dan tanggung jawab. Di bawah bimbingan instruktur TNI Angkatan Laut, para peserta mendapatkan pembekalan sesuai tahapan latihan dengan mengutamakan prosedur keselamatan.

Kegiatan tersebut dibuka oleh DANSATHANTAI Kodaeral 2 Padang, Letkol Afrison Taufik. Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Sekretaris Daerah Kota Padang sekaligus pembina, Raju Mindropa Caniago, Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang Hendra Pebrizal, serta tokoh masyarakat sekaligus akademisi Prof. Genefri.

Hadir pula jajaran pejabat Kodaeral 2 Padang dan perwakilan pimpinan perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Sumatera Barat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi gambaran dukungan terhadap pembinaan mahasiswa agar tumbuh sebagai generasi muda yang memiliki integritas, disiplin, dan kepedulian sosial.

Menwa Diproyeksikan Jadi Dubalang Kampus

Di balik pelaksanaan pendidikan dasar tersebut, terdapat gagasan yang ingin diwujudkan Komandan Resimen, Fauzi Bahar. Ia mendorong Menwa Maharuyung agar tidak hanya dikenal melalui kegiatan seremonial dan kemampuan baris-berbaris, tetapi juga mengambil peran nyata dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman dan kondusif.

“Menwa harus mampu berkembang menjadi lebih dari sekadar organisasi yang mahir baris-berbaris. Kami ingin menghadirkan sosok dubalang kampus, yang ikut menjaga lingkungan pendidikan agar terbebas dari narkoba, tawuran, dan pengaruh paham ekstremis,” ujar Fauzi Bahar.

Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun budaya positif di lingkungan kampus. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian, Menwa diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus mitra dalam mengedukasi sesama mahasiswa tentang pentingnya menjaga ketertiban, persatuan, dan keamanan.

Gagasan dubalang kampus itu juga diharapkan melengkapi keberadaan Dubalang Kota yang berperan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat. Jika keduanya dapat berjalan beriringan, upaya membangun lingkungan yang aman tidak hanya berlangsung di tengah masyarakat, tetapi juga menjangkau dunia pendidikan.

Fauzi Bahar berharap, sinergi tersebut dapat tumbuh melalui koordinasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta berbagai unsur terkait. Dengan begitu, kampus tidak hanya menjadi tempat mencetak lulusan berprestasi, tetapi juga ruang tumbuhnya karakter, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama.

Membentuk Karakter, Bukan Sekadar Keterampilan

Dalam pelaksanaan latihan, para peserta mengikuti setiap tahapan dengan penuh perhatian. Mulai dari pengenalan perlengkapan, pemahaman prosedur keamanan, hingga pembelajaran teknik dasar sesuai arahan instruktur, seluruh kegiatan menekankan pentingnya ketelitian, kepatuhan terhadap aturan, dan pengendalian diri.

Bagi peserta yang baru pertama kali mengikuti latihan menembak menggunakan senjata api, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berkesan. Namun, lebih dari pengalaman baru, mereka juga dituntut memahami bahwa keterampilan yang diperoleh harus digunakan secara bertanggung jawab dan sesuai ketentuan.

Kepala Staf Menwa, Hendra Idrus, turut memantau jalannya kegiatan. Ia juga memberikan perhatian terhadap pembinaan organisasi dan penguatan karakter para siswa agar pendidikan yang dijalani tidak berhenti pada penguasaan keterampilan, tetapi berlanjut dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Dukungan dari jajaran pemerintah daerah, TNI AL, tokoh masyarakat, dan pimpinan perguruan tinggi semakin memperkuat harapan agar Menwa Maharuyung mampu menjadi wadah pembentukan mahasiswa yang berkarakter. Kedisiplinan yang ditanamkan selama pendidikan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan akademik maupun pergaulan di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan Menwa bukan hanya diukur dari kemampuan mengikuti instruksi atau menyelesaikan latihan. Hal yang lebih penting ialah bagaimana para mahasiswa mampu membawa nilai disiplin, tanggung jawab, solidaritas, dan kepedulian ke lingkungan masing-masing.

Melalui semangat dubalang kampus, Menwa Maharuyung diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi dalam menciptakan perguruan tinggi yang aman, damai, dan produktif. Sebab, menjaga masa depan generasi muda bukan hanya tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk kampus tempat mereka menuntut ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *