PADANG, — Inovasi pengelolaan lingkungan muncul dari kawasan permukiman Kota Padang. Warga RT 03 RW 23 Perumahan Abu Hanif Devila, Kecamatan Koto Tangah, menghadirkan Solar Biodigester sebagai upaya mengatasi persoalan sampah organik sekaligus memperbesar daya resap air di lingkungan.
Inovasi tersebut menarik perhatian Tim Juri Padang Rancak Award (PRA) 2026 saat melakukan penilaian sesi kedua, Kamis (18/9/2026).
Solar Biodigester bukan sekadar wadah untuk membuang sampah. Sistem yang dibuat warga ini menggabungkan pengolahan sampah organik dengan konsep resapan air dan pemanfaatan organisme pengurai.
Sisa makanan rumah tangga dimasukkan ke dalam wadah yang sebagian ditempatkan di dalam tanah. Di dalam sistem tersebut, material organik mengalami proses penguraian dengan bantuan organisme yang secara alami bekerja menguraikan bahan tersebut.
Menariknya, konsep tersebut juga dikembangkan untuk mendukung budidaya maggot. Dengan demikian, sampah makanan yang biasanya berakhir di tempat pembuangan dapat dimanfaatkan kembali dalam sebuah siklus pengelolaan yang lebih sederhana dan berbasis lingkungan.
Salah seorang juri PRA 2026, Syaifuddin Islami, melihat inovasi tersebut memiliki keterkaitan dengan kondisi lingkungan permukiman, khususnya kawasan yang menghadapi persoalan genangan.
“Solar Biodigester tidak hanya bermanfaat untuk mengamankan sampah organik dari rumah tangga. Sistem ini juga dapat berfungsi seperti biopori, membantu air masuk ke dalam tanah, sekaligus memperbaiki kesuburan tanah melalui proses penguraian bahan organik,” ujar Syaifuddin.
Menurutnya, pengelolaan sampah dan persoalan air di lingkungan permukiman tidak harus selalu dipandang sebagai dua persoalan berbeda. Keduanya dapat ditangani melalui pendekatan yang saling terhubung.
Konsep itulah yang coba diterapkan warga Abu Hanif Devila. Sampah organik dikelola di sumbernya, sementara keberadaan sistem yang berhubungan langsung dengan tanah turut memberikan ruang bagi air untuk meresap.
Meski tidak bisa menggantikan fungsi drainase maupun infrastruktur pengendalian banjir dalam skala besar, keberadaan titik resapan di lingkungan permukiman dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki infiltrasi air hujan.
Selain persoalan genangan, pengolahan sampah dari sumber juga menjadi perhatian. Sampah organik, terutama sisa makanan, merupakan salah satu jenis sampah yang mudah membusuk apabila tidak segera dikelola.
Jika tercampur dengan sampah lainnya, material tersebut akan lebih sulit dimanfaatkan kembali. Sebaliknya, melalui pemilahan sejak dari rumah, sisa makanan dapat diarahkan untuk proses penguraian.
Solar Biodigester kemudian menjadi salah satu pilihan untuk mengolah material tersebut tanpa seluruhnya bergantung pada sistem pengangkutan sampah.
Dalam penerapannya, inovasi ini memiliki beberapa fungsi sekaligus. Selain menjadi tempat penguraian sampah organik, sistem tersebut dirancang menyerupai konsep biopori untuk membantu penyerapan air serta dapat dikembangkan sebagai media pendukung budidaya maggot.
Hasil penguraian bahan organik juga dapat memberikan manfaat bagi kondisi tanah di sekitar lokasi. Material organik yang telah terurai dapat kembali menjadi bagian dari siklus alami dan mendukung aktivitas biologis tanah.
Namun, teknologi sederhana tersebut tetap membutuhkan satu hal penting: kedisiplinan warga.
Pemilahan sampah dari dapur menjadi kunci. Sisa makanan harus dipisahkan dari plastik, logam, kaca maupun sampah residu lainnya agar proses pengolahan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Artinya, keberhasilan Solar Biodigester bukan hanya ditentukan oleh bentuk alat atau sistem yang digunakan, tetapi juga oleh kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah setiap hari.
Apa yang dilakukan warga RT 03 RW 23 Abu Hanif Devila memperlihatkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus menunggu pembangunan infrastruktur berskala besar.
Dari lingkungan terkecil, seperti rumah, halaman, taman dan kawasan RT, masyarakat dapat mulai membangun pola pengelolaan sampah dan air yang lebih ramah lingkungan.
Dalam konteks Padang Rancak Award, inovasi tersebut juga menunjukkan bahwa lingkungan yang tertata bukan hanya soal kebersihan dan keindahan visual.
Lebih dari itu, lingkungan yang baik ditentukan oleh kemampuan masyarakat menjaga keberlanjutan, mengurangi sampah dari sumbernya, memanfaatkan kembali bahan organik, serta menyediakan ruang bagi air untuk meresap ke tanah.
Dari sebuah kawasan permukiman di Koto Tangah, warga memperlihatkan bagaimana satu inovasi sederhana dapat menghubungkan beberapa persoalan sekaligus: sampah rumah tangga, kesuburan tanah, resapan air dan pemanfaatan organisme pengurai.
Jika pola serupa dikembangkan secara lebih luas dan disertai edukasi serta pemilahan sampah yang konsisten, konsep tersebut dapat menjadi bagian dari gerakan lingkungan berbasis masyarakat.
Pesannya sederhana. Sampah organik tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan, sementara air hujan tidak harus seluruhnya segera dialirkan keluar kawasan. Sebagian sampah bisa kembali ke siklus alam dan sebagian air bisa diberi kesempatan untuk kembali meresap ke tanah.















