banner 728x250
Opini  

Orang Tua di Nagari Anduriang Dibekali Mitigasi Bencana, Anak Usia Dini Jadi Perhatian Utama

IMG 20260818 170245
Oplus_131072
banner 120x600

PADANG PARIAMAN — Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan petugas kebencanaan. Keluarga menjadi benteng pertama, terutama ketika bencana datang tanpa mengenal waktu. Kesadaran inilah yang dibangun melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Edukasi Mitigasi Bencana Berbasis Keluarga bagi Orang Tua Anak Usia Dini” di Aula Kantor Wali Nagari Anduriang, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB itu secara resmi dibuka Wali Nagari Anduriang, Henyunis, S.Pd. Para orang tua tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang mitigasi bencana, tetapi juga diajak mempraktikkan berbagai langkah yang dapat dilakukan keluarga ketika menghadapi situasi darurat.

Kegiatan tersebut diketuai Dr. Rismareni Pransiska, M.Pd. Dengan pendekatan edukasi dan praktik, peserta diarahkan untuk membangun kesiapan keluarga sekaligus memahami cara memberikan perlindungan kepada anak usia dini yang membutuhkan perhatian khusus dalam kondisi bencana.

“Mitigasi bencana harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana, karena keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi anak,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Pada sesi pertama, Dr. Serli Marlina, M.Pd. memberikan materi tentang kesiapsiagaan keluarga sebelum bencana. Peserta diajak mengenali potensi risiko, khususnya banjir dan tanah longsor, memahami tanda-tanda bahaya, menentukan lokasi aman, menyusun persiapan keluarga, hingga menyiapkan Tas Siaga Bencana.

Tidak kalah penting, orang tua juga dibekali pemahaman mengenai peran mereka dalam memastikan keselamatan anak ketika situasi darurat terjadi.

Memasuki sesi kedua, Dr. Syahrul Ismet, S.Ag., M.Pd. menyampaikan materi mengenai perlindungan anak saat dan setelah bencana. Pembahasan mencakup tindakan ketika banjir atau longsor terjadi, proses evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar anak, kebersihan, hingga pendampingan psikologis dan pemulihan anak pascabencana.

“Anak usia dini tidak bisa disamakan dengan orang dewasa dalam menghadapi bencana. Mereka membutuhkan pendampingan, ketenangan dan perlindungan dari orang tua agar tidak semakin rentan ketika berada dalam situasi darurat,” jelasnya dalam sesi edukasi.

Setelah pemaparan materi, peserta mengikuti diskusi dan tanya jawab. Berbagai pengalaman serta kondisi yang berpotensi dihadapi keluarga ketika bencana terjadi menjadi bahan pembahasan bersama.

Kegiatan kemudian memasuki sesi praktik yang didampingi Dr. Setiyo Utoyo, S.Pd., M.Pd., Dr. Anggarda Paramita Muji, M.Pd., bersama tim. Peserta diajak mempraktikkan penyiapan Tas Siaga Bencana sekaligus mengikuti workshop membuat Papan Siaga Keluarga.

Dalam praktik Tas Siaga Bencana, peserta diperkenalkan dengan berbagai perlengkapan penting yang harus tersedia dan mudah dibawa ketika keluarga harus segera melakukan evakuasi. Mereka juga mendapatkan penjelasan mengenai fungsi setiap perlengkapan serta cara menatanya agar praktis saat dibutuhkan.

Sementara melalui Papan Siaga Keluarga, peserta menyusun langkah kesiapsiagaan berdasarkan tiga tahapan utama, yakni SEBELUM, SAAT, dan SETELAH bencana.

Metode praktik tersebut membuat peserta tidak sekadar menerima teori, tetapi langsung memahami bagaimana kesiapsiagaan dapat diterapkan di rumah.

“Kesiapsiagaan bukan hanya tentang mengetahui apa itu bencana, tetapi bagaimana keluarga mampu mengambil keputusan dan bertindak dengan cepat ketika bencana benar-benar terjadi,” ujar tim pelaksana.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa membangun masyarakat tangguh bencana harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga. Dengan orang tua yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mitigasi, anak-anak diharapkan mendapat perlindungan lebih baik ketika bencana terjadi.

Melalui kegiatan tersebut, orang tua di Nagari Anduriang diharapkan mampu mengenali risiko di lingkungan sekitar, menyiapkan kebutuhan darurat, memahami jalur dan proses evakuasi, serta memberikan perlindungan yang tepat kepada anak sebelum, saat, maupun setelah bencana.

Kegiatan ditutup pada sore hari setelah melalui evaluasi dan penutupan. Dari Aula Kantor Wali Nagari Anduriang, pesan yang dibawa pulang para peserta sederhana namun penting: keluarga yang siap adalah keluarga yang mampu menyelamatkan diri dan melindungi orang-orang yang dicintainya ketika bencana datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *