banner 728x250

Sekolah Ramah Anak Diperkuat, Muhidi Ingatkan Pentingnya Iman, Ilmu dan Karakter

IMG 20260909 WA0075
banner 120x600

PADANG, — Sekolah tidak seharusnya hanya menjadi tempat anak mengejar prestasi akademik. Lingkungan pendidikan juga harus mampu memberikan rasa aman, membentuk karakter, serta menjadi ruang bagi anak untuk tumbuh dan mengembangkan potensi dirinya.

Hal itu menjadi perhatian dalam Pelatihan Konvensi Hak Anak untuk mendorong terwujudnya sekolah ramah anak melalui pemenuhan dan perlindungan hak anak di Padang, Rabu (9/9/2026).

Ketua DPRD Sumatera Barat Muhidi mengatakan, perlindungan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama. Dari sisi kebijakan, DPRD memiliki peran melalui fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan.

“Dengan tiga fungsi DPRD tersebut, kita bisa membantu memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan. Kalau ada aturan yang perlu diperbaiki atau bahkan diperlukan aturan baru, tentu kita siap menindaklanjutinya,” ujar Muhidi.

Menurutnya, anak merupakan aset yang sangat berharga. Mereka bukan hanya menjadi harapan keluarga, tetapi juga menentukan masa depan masyarakat, daerah dan bangsa.

Karena itu, Muhidi mengingatkan agar perhatian terhadap anak tidak berhenti pada persoalan perlindungan semata. Anak juga harus diberikan ruang untuk berkembang sehingga kelak mampu menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

“Kita jangan hanya berpikir bagaimana melindungi anak. Kita juga harus menumbuhkan mereka agar menjadi sumber daya manusia yang unggul. Ini sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045,” katanya.

Muhidi menilai generasi unggul tidak cukup hanya memiliki kecerdasan. Pendidikan harus berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak, keimanan dan karakter.

Ia menyebut iman dan tauhid perlu menjadi fondasi dalam membangun cara berpikir anak. Dengan dasar tersebut, anak diharapkan mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta bertanggung jawab terhadap setiap tindakan.

“Kalau iman dan tauhid menjadi dasar, maka cara berpikir kita akan terbentuk dengan baik. Cara berpikir yang baik akan melahirkan tindakan yang baik pula,” tuturnya.

Selain karakter, Muhidi juga menekankan pentingnya literasi. Anak harus dibiasakan membaca dan terus menambah pengetahuan agar mampu menghadapi perubahan zaman.

“Kalau ingin sukses, kita harus memiliki ilmu. Karena itu, budaya membaca dan literasi harus terus kita tumbuhkan pada anak-anak,” ujarnya.

Ia berharap sekolah benar-benar menjadi tempat yang membuat anak merasa nyaman untuk belajar, berinteraksi dan mengembangkan kemampuan tanpa rasa takut.

“Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman bagi anak. Mereka harus bisa berkembang, memiliki karakter, berilmu dan menjadi manusia yang bermanfaat,” katanya.

Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Provinsi Sumatera Barat Herlin Srihendini mengatakan, pelatihan tersebut menjadi momentum untuk menyatukan pemahaman antara pemerintah, sekolah dan pihak terkait mengenai pemenuhan hak anak.

Menurutnya, anak memiliki hak yang harus dipenuhi sekaligus dilindungi. Karena itu, berbagai persoalan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak perlu mendapat perhatian serius.

“Anak-anak merupakan aset yang tidak ternilai harganya. Karena itu, hak-hak mereka harus kita penuhi dan kita jaga bersama,” kata Herlin.

Ia mengatakan persoalan seperti bullying, kekerasan dan berbagai bentuk perilaku yang dapat mengganggu perkembangan anak tidak bisa dibiarkan. Penanganannya membutuhkan kerja bersama seluruh unsur yang berada di sekitar anak.

Herlin menegaskan konsep sekolah ramah anak harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Tidak hanya siswa, guru, tenaga kependidikan dan seluruh warga sekolah harus merasakan lingkungan yang aman dan nyaman.

“Kita harus bersama-sama mewujudkan budaya sekolah yang aman dan nyaman. Jangan sampai persoalan yang terjadi hari ini justru menghambat kita dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Ia berharap penguatan sekolah ramah anak dapat menjadi bagian dari upaya menyelamatkan dan mempersiapkan generasi penerus Sumatera Barat.

“Tujuan kita adalah menyelamatkan generasi yang akan datang, karena mereka adalah penerus kita nantinya,” katanya.

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3AP2KB Sumbar Karyono menambahkan, pelatihan tersebut digelar karena masih ditemukan sejumlah persoalan di lingkungan sekolah yang menunjukkan penerapan sekolah ramah anak belum berjalan maksimal.

“Kami masih menemukan kasus-kasus yang terjadi di sekolah. Karena itu, kita mencoba memberikan pendampingan dan pemahaman agar sekolah mampu menciptakan lingkungan yang tidak menghambat tumbuh kembang anak,” ujar Karyono.

Ia berharap para peserta tidak hanya memahami materi selama pelatihan, tetapi juga mampu menerapkannya di lingkungan sekolah masing-masing.

“Kita berharap peserta aktif dan memahami persoalan anak secara lebih spesifik. Mereka yang setiap hari berhadapan dengan anak harus mampu melihat kondisi dan kebutuhan anak saat ini,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *